Semangat Sumpah Pemuda pada era modern bukan hanya tentang merenung sejarah nasionalisme tetapi juga menekankan tanggung jawab generasi muda dalam menjaga persatuan negara terhadap isu-isu provokatif dari dunia maya.

Dalam konteks saat ini, media sosial tidak saja membantu interaksi informasional antar warga namun dapat pula menjadi arena bagi penyebar hoaks dan ujaran kehate yang berbahaya untuk stabilitas bangsa.

Menjaga Penggunaan Media Sosial dengan Bijaksana

Hallyah, seorang santriwati dari Pesantren Digipreneur Al Yasmin Surabaya, menyoroti pentingnya anak muda menggunakan media sosial secara bijak. Menurutnya, tidak cukup hanya mencari hiburan atau mengikuti tren; media sosial juga dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan informasi yang bermanfaat dan memperkuat semangat persatuan di tengah keberagaman.

Dalam wawancara dengan JatimLambeTurah pada Rabu, 28 Oktober 2026, Hanny menyatakan bahwa anak muda harus lebih bijaksana dalam menggunakan media sosial. Menurut dia, tidak boleh langsung percaya atau membagikan informasi yang belum dipastikan kebenarannya.

Kita juga perlu menjaga cara berkomentar dan menghargai perbedaan pendapat. Media sosial seharusnya bisa menjadi tempat untuk berbagi hal positif, bukan justru menimbulkan perpecahan,

Bijak dalam menggunakan media sosial dapat dimulai dari hal-hal sederhana seperti memeriksa sumber sebelum dibagikan, mengkonfirmasinya dengan informasi yang dipercaya, serta tidak memberi komentar rendahan terhadap orang lain. Langkah-langkah tersebut sangat penting untuk mencegah penyebaran informasi palsu maupun konflik online.

Semangat Sumpah Pemuda tetap relevan bagi generasi muda saat ini; menjaga persatuan bukan hanya di dunia nyata namun juga melalui cara berkomunikasi dan interaksi dalam ruang digital.

Dengan memanfaatkan pemikiran kritikal dan penggunaan teknologi secara bertanggungjawab, generasi muda dapat membantu menciptakan lingkungan online yang lebih sehat serta memberikan manfaat bagi komunitasnya.

Helmy M Noor, Founder Pesantren Digipreneur Al Yasmin, terus berusaha mengembangkan metode pembelajaran untuk menjadikan santrinya semakin cermat dan adaptif dalam dunia digital. Ini merupakan langkah penting mereka guna menyiapkan para santri hadapi tantangan era modern dengan baik.

“Para santri adalah garda penting dalam membawa perubahan bagi masyarakat. Kalau mereka mampu adaptif dengan perkembangan zaman dan teknologi, maka akan menjadi penyeimbang di tengah gempuran hoaks dan ujaran kebencian”, ujarnya.

Para santri adalah garda penting dalam membawa perubahan bagi masyarakat. Kalau mereka mampu adaptif dengan perkembangan zaman dan teknologi, maka mereka akan menjadi penyeimbang di tengah gempuran hoaks dan ujaran kebencian,

Semangat tersebut sejalan dengan nilai Sumpah Pemuda yang menekankan pentingnya persatuan di tengah keberagaman. Jika dahulu para pemuda berjuang menyatukan bangsa melalui semangat kebangsaan, kini generasi muda juga memiliki tantangan untuk menjaga persatuan di ruang digital.

Pendekatan Santri terhadap Teknologi

Santri dituntut bukan hanya ikut saja dalam pergaulan teknologi, tapi harus pintar menggunakan alat tersebut untuk menyebarluaskan nilai-nilai positif, mendorong toleransi antarsuku, serta menciptakan lingkungan digital yang sehat. Dengan demikian, media sosial tidak cuma tempat berbagi informasi biasa, melainkan juga platform untuk memelihara persaudaraan dan rasa cinta tanah air.

Menurut saya, anak muda harus lebih bijak saat menggunakan media sosial. Jangan langsung percaya atau ikut menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya,