Karier megabintang Real Madrid Kylian Mbappe tiba-tiba dipukul oleh badai diplomatik dan kerugian komersial besar-besaran setelah membuat ucapannya kontroversial tentang bapak pendiri Tiongkok, Mao Zedong, yang memicu kemarahankuasaan. Guyonan cerobohnya melalui media sosial mengundang pemotongan kontrak sponsor bernilai fantastis hingga ancaman pemberkasan siaran La Liga di Negeri Tirai Bambu.

Seiring itu, penyerang anyar Los Blancos tertawa lepas sambil menanggapikan sebuah video meme viral dengan wajahnya terlampir pada potret mendiang Mao Zedong dan menyebut figur sejarah tersebut sebagai "seorang diktator China".

Tindakan spontan tersebut langsung menyulut kemarahan luar biasa dari otoritas penyiaran tertinggi Tiongkok. China Media Group, lembaga penyiaran milik negara, bereaksi dengan keras; menolak penayangan seluruh pertandingan La Liga serta mencopot paksa semua iklan komersial yang melibatkan wajah Mbappe dianggap memperlihatkan perilaku sangat tidak baik.

Keprihatinan kian tak terbendung saat perusahaan raksasa negeri tirai bambu juga bergerak serentak untuk menghentikan kerja sama mereka. Produser minuman energi Dongpeng dan produsen susu Mengniu memilih seketika merobek kontrak bernilai jutaan euro dengan bintang sepak bola tersebut karena anggapan bahwa dia telah menyerobot sentimen nasional.

DITIMPA KRISES GLOBAL, KYLIAN MBAPPE AKHIRNYA BUKA SUARA DAN MENYESAL

Menyadari karier komersial dan reputasi internasionalnya berada pada ambang hancur, Kylian Mbappé pun segera melakukan langkah darurat untuk menenangkan publik. Dengan raut penyesalan mendalam di tengah sorotan pers yang semakin memanas, pemain berusia 25 tahun ini secara terbuka mengakui kesalahan atas kata-kata yang pernah ia ucapkan.

"Dalam sebuah wawancara baru-baru ini, saya bereaksi terhadap gambar diri saya. Komentar saya tidak bijaksana, dan kini saya memahami bahwa komentar itu menyakiti banyak orang di China dan komunitas China di seluruh dunia," ujar sang penyerang.

"Saya meminta maaf kepada semua orang yang tersinggung oleh kata-kata saya. Itu sama sekali bukan niat saya. Saya sangat menghormati rakyat China dan sejarah mereka. Saya sungguh menyesal," tuturnya.

Javier Tebas Cuci Tangan untuk Menyelamatkan Laba Sepak Bola Spanyol

Ketika seorang megabintang tersandung skandal besar, publik biasanya berharap petinggi kompetisi akan pasang badan melindungi aset terbesarnya. Namun, kenyataannya, Mbappe harus menerima keputusan Javier Tejas, Presiden La Liga, yang memilih mengambil jarak demi menyelamatkan pundi-pundi hak siar liga Spanyol di kawasan Asia.

Kritikan Terhadap Boikot Siaran

Tebas menyadari dengan jelas bahwa boikot siaran di pasar besar seperti Tiongkok akan menjadi bencana finansial fatal bagi puluhan klub Spanyol yang masih berjuang bangkit ekonomi. Tanpa ragu sedikit pun, sang presiden langsung merilis pernyataan resmi untuk meminta maaf dan secara tegas mengorbankanMbappéagarinamembawa kompetisi keluar dari situasi tersebut agar tidak menyeretnya ke dalam krisis.

"Kami di La Liga sangat menyesalkan pernyataan Kylian Mbappe yang telah menimbulkan ketidaknyamanan dan menyinggung perasaan di China. Kami memahami dampak yang ditimbulkan dan, atas nama La Liga, saya ingin menyampaikan permintaan maaf tulus kami kepada rakyat China. Selama bertahun-tahun, kami telah membangun hubungan yang dilandasi rasa hormat, kepercayaan, dan kerja sama dengan China, otoritasnya, lembaga-lembaga olahraganya, operator-operator audiovisualnya, serta jutaan penggemar sepakbola Spanyol," kata Tebas dalam sebuah pernyataan.

"Kami tidak bisa membiarkan tindakan seseorang mencoreng hubungan itu atau merugikan lebih dari 20 klub dalam kompetisi profesional kami dan jutaan penggemar di China. Kami mengambil langkah-langkah yang dapat kami lakukan dan bekerja langsung dengan para mitra serta pihak-pihak terkait di China untuk mengatasi situasi ini. Komitmen kami kepada China, rakyatnya, dan lembaga-lembaganya tetap teguh. Hubungan yang dibangun selama bertahun-tahun tidak boleh rusak karena satu insiden," tegasnya.

RUNTUHNYA STATUS KESAYANGAN 'GUIGUI' DAN SANKSI DINGIN DIPLOMATIK

Dalam mata publik Tiongkok, mengomedi-kan sosok pendiri negara lebih dari sekadar isu media sosial; itu adalah tabu budaya paling sakral yang bisa memicu kebijakan toleransi nol. Sebelum insiden ini terjadi, Mbappe memiliki jutaan pengikut fanatik di sana dan dipanggil dengan nama sayang ‘Guigui’, yang berarti ‘Kura-kura’.

Cinta besar itu seketika hilang menjadi gelombang kecaman merembet hingga meja diplomasi internasional tingkat tinggi. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok tak bisa diam dan menyoroti bahwa tindakan melecehkan bangsa mereka akan mendapat balasan bersama dari seluruh rakyat.

Mbappe mungkin bakal dibebaskan bertanding atau dipisahkan jauh oleh manajemen atas isu liar yang beredar di kalangan suporter.

Tekanan batin luar biasa kini mengintai Mbappe, setiap gerak-geriknya dalam ruang ganti Santiago Bernabeu diteliti dengan curiga ketat.

Mbappe harus membayar mahal untuk menyingkirkan tuduhan arogansi dan ketidaktahuan geopolitiknya dengan cara bekerja keras di lapangan hijau saat Real Madrid menghadapi jadwal kompetisi padat nanti musim ini.

Satu-satunya jalan bagi Mbappe adalah memperlihatkan keberanian mental melawan cabaran-cabaran besar berikutnya, baik itu pertandingan krusial hidup-mati maupun tantangan-tantangan intelektual yang lebih mendalam dalam perjalanan karier sepak bola-nya.

Pertempuran antara realita olahraga dan cina sosial akan menjadi ujian serius terakhir untuk membuktikan apakah dia mampu bangkit dari rintangannya atau tenggelam di jurang citra negatif sendiri. Meski diplomatik La Liga sedikit meredakan konflik tersebut seiring dengan perundingan panjang para pejabatnya, luka timbal balik ini pasti masih membelit Mbappe hingga akhir kariernya nanti.