Terkait Hubungan Istri Buya Hamka
"Aktor Vino G Bastian membongkar sebuah kisah berharga tentang perjalanan spiritual ibu tercinta, yang pada masa lalu telah dipandu oleh Buya Hamka."
Berdasarkan informasi tersebut, dikenal bahwa ibunda Vino adalah seorang mualaf yang didampingi secara pribadi oleh tokoh agama senior itu sebelum melangkah ke ranjang perkawinan bersama Bapaknya,"
Diskusi Antara Vino dan Penonton
"Kisah ini saya sampaikan ketika hadir dalam Special Screening Hamka Awal Mula Vol. 3, yang berlangsung di Plaza Senayan, Jakarta Pusat pada hari Rabu tanggal 28 Oktober 2026."
Vino bercerita bahwa sebelum acara tersebut dia sendiri tak menyadari bahwa ibunya sempat bertemu secara pribadi dengan Buaya Hamka.
Cerita Baru Terungkap
Vino baru mengetahui fakta tersebut ketika ia menceritakan bahwa dirinya mendapatkan peran dalam film tentang seorang ulama dan sastrawan kepada ibundanya.
"Saat ini saya memberi tahu ibunda kalau saya memperankan tokoh itu."
Sang ibu kemudian bertanya apakah Vino mengenal sosok Buya Hamka. Dengan senyum, ibunya menjawab, membuat Vino berasumsi pengetahuan tersebut berhubungan dengan koleksi buku yang dimiliki ayahnya.
"Kirain tahunya karena bapak saya di ruangan perpustakaan itu banyak buku-buku Buya Hamka. Dari tafsir, Al-Quran, Al-Azhar, sampai novel-novelnya," cerita Vino.
Ternyat Jawabannya Lebih Personal
Ibunya mengaku pernah dibawa oleh ayah Vino untuk menemui Buya Hamka di kediaman Buya di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, sebelum menikah.
Di sana ia dipandu untuk memilih beragam Islam.
Bagaimana Pengungkapan Cerita Berhubungan Dengan Hidup Keluarga Vino?
Dalam pandangannya sendiri, Vino mengatakan bahwa ungkapannya ini telah menciptakan kenangan tak terlupakan bagi dirinya dan keluarganya. Keterlibatan dalam proyek film berkaitan dengan Buya Hamka dianggapnya sebagai hal yang lebih dari sekadar pekerjaan.
Dalam prosesi pengambilan gambar filmnya, Vino merasakan kehadiran ibunya yang kini sudah tiada.
"Ketika saya mulai syuting film ini, ibuku masih hidup. Sekarang, dia tidak lagi."
Ibunya menjadi bagian dari nasib yang ditentukan oleh Alloh Swt menurut Vino.
"Mungkin ini udah jadi garis Allah gitu. Kayaknya kok semuanya kayak berhubungan gitu ya? Mudah-mudahan film ini bisa menjadi pelajaran, terutama buat saya sendiri," ujarnya.
"Meskipun saya tahu bahwa ibuku telah masuk ke dalam islam melalui bimbingan dari Buaya Hamka, saya sendiri tidak paham dengan detail cara belajar agamanya."
Vino mencurigai proses tersebut m Mirip dengan pengalaman biasa seseorang saat pertama kali memilih jalan Islam; kemungkinannya ialah ibu Vino ikut berbagai sessi pendidikan yang membahas asas-asas agama.
Berkenaan dengan Sosok Buya Hamka
"Vino mengingatkan bahwa Buya Hamka adalah seorang ulama yang terbuka dan ramah terhadap masyarakat. Sesuai informasionalnya, Buya Hamka selalu siap membantu mereka yang mau berdiskusi atau mempelajari keagamaan."
"Buya memang pada saat itu pintunya sangat terbuka. Biasanya dia setiap hari Jumat itu dia membuka pintu rumahnya untuk orang, ada yang mau curhat atau apa gitu. Termasuk orang-orang yang mau belajar agama," tuturnya.
Bastian Dalami Bahasa Arab untuk Peran Buya Hamka
Mendalami peran sebagai Buya Hamka melibatkan banyak tantangan bagi Vino G., salah satunya yaitu belajar bahasa Arab demi syuting dialog-dialgnya dalam film tersebut.
"Vino mengaku proses belajar dan latihan untuk mencapai ucapankuatan bahasa Arab dengan baik tidaklah mudah." Vino
Vino merasakan bahwa ia harus berlatih keras agar bisa meyakinkan pengucapan bahasa Arabnya, termasuk menjaga panjang pendek bunyi-bunyi vokal yang penting bagi akurasi pengucapan.
Tantangannya Menjadi Penutur Bahasa Arab Bagi Non-Penuturnya
- Menurut Vino, tantangan tersebut cukup besar karena dirinya bukan penutur asli bahasa Arab ini.
- Ia tahu betul jika ada penonton yang memahami bahasa Arab mungkin akan menilai kekurangan dalam pelafalan ucapannya.
"Belajarnya lumayan banyak keserimpetnya. Mungkin kalau misalnya buat para ustaz yang melihat, yang tahu, paham banget bahasa Arab, mungkin ya adalah sedikit salah-salah. Karena susah sekali gitu, panjang pendeknya udah beda ya," ungkapnya.
"Beruntunglah kami, dengan proses syuting yang menggunakan Mesir sebagai lokasi pengambilan gambar untuk latar Makkah membuat Vino mendapatkan bantuan dari mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar, Kairo."
Mereka mendampingi Vino selama proses produksi, khususnya membantu memperbaiki pelafalan bahasa Arab. Beberapa mahasiswa tersebut juga terlibat langsung dalam film ini sebagai teman-teman Buya Hamka dalam ceritanya.
Their presence helped Vino practice while receiving direct corrections during filming sessions."Kebetulan kita dibantu sama teman-teman yang kuliah di Cairo, di Al-Azhar. Jadi mereka benar-benar setiap hari dampingi saya untuk bahasa Arabnya," kata Vino.
"Saya sangat terima kasih atas bimbingannya karena berhasil mengoptimalkan pengejaan kata-kata saat proses syuting."
Vino Teliti Aturan Islam Saat Menerjemahkan Naskah
Dalam kesempatan tersebut, Vino juga menyebut bagaimana dia memastikan aspek keagamaan tetap dihormati dalam proses produksi film. Menurutnya, tim produksi berusaha mengikuti aturan Islam ketika mengerjakan scene-scene yang berkaitan dengan agamanya.
Meski begitu, ia menambahkan bahwa selama syuting dirinya tidak terus-menerus membawa Al-Qur'an. Ada pula adegan yang melibatkan buku lain dan latihan silat serta aktivitas-aktivitas lainnya.
Tentang Bagaimana Vino Mengelola Proses Produksinya
"Bagi Vino, yang terpenting adalah menghormati aturan yang relevan dengan adegan serta menjalankan proses produksi dengan penuh perhatian."
Pengalaman memerankan Buya Hamka pun menjadi perjalanan yang tidak hanya menantang dari sisi akting, namun juga memberikan ruang untuk refleksi pada dirinya sendiri.
Tentang Proyek Film Terbaru
Proyek film ini dipenuhi emosionalitas setelah mengetahui cerita persibadannya dari sang ibu yang pernah diberi bimbingan langsung oleh Buya Hamka. Vino mengaku harapan utamanya adalah agar film tersebut bisa memberikan pesan moral kepada para penonton dan sebagai bentuk apresiasi terhadap dampak positif yang dilakukan oleh seorang ulama seperti Buya Hamka dalam kehidupan sosial.
“Film tentang perjalanan hidup Buya Hamka dapat menjadi pelajaran bagi penonton, sekaligus pengingat akan besarnya pengaruh seorang ulama dalam kehidupan masyarakat.”