Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa pemotongan volume gas nasional untuk pasar Singapore tidak melampaui batas kontrak komersial berlaku. Menurut dia, peningkatan jumlah gas masih dalam rentang minimum distribusi sesuai perjanjian bilateral kedua negara.

Bahlil juga menjelaskan Indonesia telah mengkurangi ekspor gas naturalnya sebanyak 31 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD) dari total pengiriman yang mencapai sekitar 409,5 MMSCFD. Angka tersebut setara dengan kurang lebih 8 persen dari volume pasokan gas ke Singapore yang biasanya dialokasikan.

"Saya ulangi, jumlah yang kita potong sebagian itu masih dalam batas kontrak minimum. Batas kontrak minimum kita itu adalah sekitar 91 sampai 92 persen, dan kita baru memotong sekitar delapan persen. Terkecuali kita potong 10 persen, itu baru kita melanggar kontrak," ujar Bahlil dalam konferensi pers di kantor Kementerian ESDM, dikutip Selasa (27/10/2026).

Cutting Supply from Natuna and Sumatra

Bahlil explained that Indonesian natural gas exports to Singapore are primarily through two main routes: the Natuna Sea and Sumatra. Out of this supply, the government has reduced the flow by 31 million standard cubic feet per day (MMSCFD).

"Total ekspor gas kita ke Singapura itu dari dua tempat. Satu dari Laut Natuna, satu dari Sumatra. Itu totalnya sebesar 409,5 juta MMSCFD. Yang kemarin kita potong itu adalah 31 MMSCFD, jadi yang kita potong itu hanya kurang lebih sekitar 8 persen," kata Bahlil.

Pemerintah mengurangi pasokan gas dari Natuna sebanyak 15 MMSCFD dan dari Sumatra sebanyak 16 MMSCFD. Perubahan ini dilakukan dengan mematuhi persyaratan kontrak yang berlaku.

Bahlil menambahkan bahwa pengecualian volume gas yang dikurangi hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan penggunaan gas Singapura.

"Saya membaca berita, 31 MMSCFD itu ternyata baru 2 persen dari konsumsi negara sahabat kita. Jadi, kalau 409 MMSCFD, katakanlah kalau itu tidak jalan, itu berarti berapa persen itu. Saya baca di media itu ada sekitar 1.000 MMSCFD kebutuhan mereka, ya, 1.000 lebih, berarti kurang lebih sekitar 30 persen," kata Bahlil.

Bahlil: Indonesia Tertib Menyikapi Perjanjian Dagang Internasional

Bahlil menyatakan bahwa pemerintah Indonesia akan terus menerusi prinsip penghargaan atas perjanjian dagang antarabangsa yang sudah ditanda tangani. Ia juga menegaskan agar pihak-pihak berkepentingan tidak mengurangkan keyakinannya tentang ketetapan Indonesia untuk melaksana hak-haknya di bawah kerjasama komersial tersebut.

"Tetapi atas arahan Bapak Presiden Prabowo, negara kita adalah negara yang menghargai kontrak aturan. Jadi jangan ajarin Indonesia tentang komitmen untuk menjaga, menghargai kontrak. 31 MMSCFD yang kita potong itu adalah masih di batas kontrak minimum," tegas Bahlil.

Dalam pernyataannya,Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong memfokuskan pada kebutuhan utama masyarakat agar mentaati persyaratan kontrak dalam pemasaran gas.

"Importir gas kami akan mengambil tindakan sesuai dengan syarat-syarat kontrak untuk menjaga hak serta keuntungan kita."

"Sekarang suplai gas tersebut dipenuhi melalui kontrak komersial. Kami berharap seluruh pihak memenuhi komitmennya, dan importir gas Singapura akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi hak dan kepentingannya berdasarkan kontrak tersebut," tegas Wong.

Sementara itu, pemerintah Indonesia mendorong penggunaan gas bumi untuk mendukung sektor-sektor dalam negeri seperti pupuk, petrokimia, dan industri pengolahan mineral. Kebijakan ini bertujuan untuk menjaga suplay energi di rumah tanpa mengurangi tanggungan eksportasi bagi rekan bisnisnya.

Bahlil menekankan bahwa penyesuaian pasokan gas ke Singapura masih dilakukan dengan mematuhi persyaratan kontrak yang berlaku.

Berburu Pasokan BBM di India dan China

Sementara itu, pemerintah terus upaya mempertahankan ketahanan energi nasional dengan memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) masyarakatnya. Bahlil rencananya akan melakukan kunjungan kerja ke beberapa negara termasuk India dan China untuk menjamin ketersediaan pasokan energi bagi keperluan dalam negeri. Langkah ini merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk menjaga suplai BBM yang stabil.

"Saya akan berangkat ke beberapa negara, termasuk India dan China untuk mendapatkan kepastian pasokan BBM ke depan," kata Bahlil.

Mengoptimalkan Kebutuhannya

Pemerintah mengejar strategi dual-fold: pertama, meredakan tekanan pada persediaan bahan bakar lokal; kedua, memastikan stabilitas pemasaran dalam konteks perubahan ekosistem global energi.

"Kerjasama intensif dengan negara-negara partner diperlukan untuk mendukung rantai pasok yang stabil."