Ajang Jakarta Running Festival (JRF) 2026 di Gelora Bung Karno tiba-tiba ricuh saat puluhan pelari nekat menjebol pagar setelah gagal melewati batas waktu (cut off point). Insiden ini langsung memicu pro dan kontra di media sosial, bahkan dokter Tirta ikut bersuara keras soal sikap pelari yang dianggap ‘manja’.
Di Senayan, suasana awal yang penuh antusiasme justru berubah menjadi adegan mengerikan. Para pelari Half Marathon yang terjebak di KM 10,5 tak bisa mengendalikan frustrasi saat panitia menutup lintasan karena melewati batas waktu dua jam.
Bukannya menerima kegagalan, sebagian peserta justru marah-marah hingga merobohkan barikade besi. Aksi anarkis ini jadi tontonan miris bagi penonton yang memadati area ikonik Jakarta.
Isu liar langsung meluas di media sosial, dengan tudingan bahwa panitia tidak adil. Ketegangan makin memanas saat klaim kerugian dan tuntutan kompensasi mulai diteriakkan.
Drama Barikade Jebol di KM 10,5: Ambisi Buta demi Sekeping Medali Finisher
Insiden bermula saat pelari yang terjebak di titik cut off point menolak dievakuasi. Mereka merasa berhak terus berlari meski jam sudah melewati ambang toleransi.
Sikap keras kepala memuncak saat petugas keamanan berupaya mengamankan lintasan. Teriakan dan dorongan pagar terjadi, menunjukkan ego oknum pelari yang enggan mengakui keterbatasan latihan.
Melihat kekacauan ini, dokter Tirta langsung pasang badan membela regulasi. Ia menyoroti mentalitas manja sebagian peserta.
“Yo, buat kawan-kawan semua, ini tadi di JRF ada rame-rame, ya, yang banyak pelari yang kena cut off point di HM, di 1 tuh marah-marah,” kata dokter Tirta.
Dokter Tirta Semprot Dalih Konyol: “Pelari Pelan Harusnya Ditaruh Corral Satu”
Kekesalan dokter Tirta memuncak saat mendengar alasan tidak masuk akal dari peserta yang gagal lolos seleksi waktu. Menurutnya, alasan terlambat memulai lari dari barisan belakang adalah cermin ketidaktahuan yang memalukan.
“Katanya, ‘Ya saya ini kan di corral 8 telat 27 menit, harusnya panitia kompensasi. Ya kami kan pelari pelan, harusnya ditaruh corral satu,” tegasnya.
Ia menyoroti tuntutan refund yang dianggap lelucon yang salah alamat. Menyerahkan diri pada aturan ketat lomba adalah komitmen mutlak yang harus dipahami sebelum registrasi.
“Kalau kalian memang enggak mau ribet, ya pilih event-event lain. Enggak mau diatur, ya lari sendiri. Simpel,” ujarnya.
Sentilan Menusuk FOMO Medali: Bukan Protes Panitia, tapi Latihan Lagi!
Fenomena FOMO (Fear Of Missing Out) dan budaya pamer di media sosial disinyalir jadi akar kepanikan peserta. Banyak orang hanya tergiur konten estetik dan kalungan medali tanpa mau berdarah-darah menjalani latihan.
“Kami minta refund? Lho, aturannya udah jelas. COP tuh waktunya dihitung dari gun time. Ini pasti orang-orang awam pada bingung, ‘Kenapa sih ini pelari-pelari pada ribut?’ Ya enggak tahu tuh yang nerobos-nerobos COP demi medali,” katanya.
Pesan penutup dari dr. Tirta menampar wajah para pelari yang lebih mementingkan gengsi daripada kejujuran fisik. Ia menantang peserta yang terkena cut off point untuk bercermin dan segera membenahi diri ke trek latihan.
“Kalau kamu masih finish HM-nya tuh di atas 3 jam setengah, atau kamu kesapu COP, PR-mu cuma satu: bukan protes ke panitia, tapi latihan lagi!” pungkasnya.
Insiden ini diharapkan jadi pelajaran berharga bagi komunitas lari di Tanah Air. Menjelang puncak Full Marathon, panitia memperketat pengamanan rute demi memastikan integritas lomba tetap terjaga.