Hai, sahabat Nongki Bareng! Kita pasti pernah melihat sekolah yang bangunannya rusak atau kelas yang kurang memadai. Tapi sekarang, pemerintah sedang giat memperbaikinya, lho! Dalam dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, ada dua program penting yang sedang berjalan: revitalisasi sekolah dan digitalisasi pembelajaran.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) fokus memperbaiki fisik sekolah dan membawa teknologi ke ruang kelas. Tujuannya? Agar semua anak, termasuk di daerah terpencil, bisa belajar di lingkungan yang aman dan nyaman, serta mengikuti perkembangan teknologi.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, bilang bahwa revitalisasi dan digitalisasi bukan tujuan akhir, tapi alat untuk membuat pendidikan lebih berkualitas. Kita harus bersyukur, ya!

“Revitalisasi dan digitalisasi itu bukan tujuan, tetapi sarana untuk mencapai tujuan pendidikan yang bermutu,” ujar Mu’ti.

Revitalisasi Sekolah: Lebih dari 16 Ribu Sekolah Diperbaiki

Dalam tahun anggaran 2025, pemerintah sudah memperbaiki 16.167 sekolah, melebihi target awal 10.440 sekolah. Program ini membantu lebih dari 4,2 juta siswa di 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota.

Kita juga bisa bernapas lega karena revitalisasi ini melibatkan UMKM dan tenaga kerja lokal. Artinya, selain memperbaiki sekolah, program ini juga membantu perekonomian daerah.

Dalam 2026, target diperluas hingga 51.744 sekolah. Fokusnya di sekolah rusak parah, daerah terpencil, dan sekolah yang terkena bencana. Dengan begitu, anak-anak di sana juga bisa belajar dengan fasilitas yang layak.

Digitalisasi Pembelajaran: Kini Belajar Lebih Menarik

Tidak hanya fisik sekolah yang diperbaiki, pemerintah juga memberi perangkat digital seperti Papan Interaktif Digital (PID) ke sekolah. Hingga September 2026, 289 ribu sekolah sudah menerima bantuan ini.

Menurut Mu’ti, PID membantu guru menyampaikan materi lebih interaktif dan membuat siswa lebih termotivasi belajar. Tapi, perangkat ini juga butuh dukungan infrastruktur, seperti listrik dan internet yang stabil.

“PID ini memudahkan semua orang belajar, membuat proses belajar lebih menarik, dan kreatif dengan pola interaktif,” ujar Mu’ti.

Kemendikdasmen juga melatih guru agar bisa memanfaatkan teknologi. Dengan begitu, metode pembelajaran bisa lebih dinamis dan siswa jadi lebih kritis.

Harapan untuk Pendidikan yang Lebih Merata

Revitalisasi dan digitalisasi ini saling melengkapi. Fisik sekolah yang baik memberi ruang belajar yang nyaman, sementara teknologi membuka cara belajar yang lebih kreatif. Pemerintah berharap ini bisa memperkecil kesenjangan pendidikan, termasuk di daerah yang jauh dari kota.

Kita semua berharap program ini bisa terus berjalan dan memberi manfaat nyata bagi anak-anak Indonesia. Sekolah yang aman, guru yang kreatif, dan siswa yang cerdas—ini cita-cita yang layak kita dukung bersama!