Bayangkan, dari luar angkasa, asapnya tebal sampai terlihat jelas! NASA baru saja merilis laporan soal kebakaran di Papua yang bikin mereka harus angkat bicara. Ini bukan hal biasa, lho.
Dalam laporan Kamis (22/10), NASA menyoroti kebakaran di Papua yang melepaskan emisi karbon terbesar dalam sejarah. Satelit NOAA-20 bahkan merekam asap tebal dari bagian selatan Pulau Papua pada 11 Oktober, sampai terlihat dari luar angkasa.
Angkanya bikin kaget. Hingga 17 Oktober, Papua Nugini sudah melepaskan hampir 32 megaton karbon—rekor tertinggi untuk periode yang sama. Sementara di Papua Indonesia, emisinya sudah mencapai 35 megaton, angka ketiga terbesar sepanjang sejarah, hanya kalah dari tahun 2015 dan 1997.
Ilmuwan dari Wageningen University & Research, Guido van der Werf, menyebut tahun ini jauh lebih buruk dari 2015. "Emisi sudah melampaui total sepanjang 2015, dan kemungkinan jadi yang tertinggi dalam catatan Papua Nugini," katanya.
Penyebabnya? El Niño yang mengeringkan ekosistem Papua. Di kawasan Trans-Fly, kekeringan terjadi lebih dari 90 hari tanpa hujan. Akibatnya, selain kebakaran, ada gagal panen, krisis air, dan sekolah harus tutup karena udara buruk.
Tapi jangan lupa, sebagian besar kebakaran disebabkan manusia. Pembakaran lahan untuk pertanian, penggembalaan, atau pembukaan hutan—semuanya bisa jadi api besar kalau vegetasi sudah kering.
Dampak jangka panjang juga terasa. Data menunjukkan hutan Papua kehilangan 27 ribu hektare sepanjang 2025, dua kali lipat dibanding 2024. Ini menunjukkan tekanan terhadap hutan sudah meningkat sebelum El Niño datang.
Nanti, sampai musim hujan tiba di bagian selatan Papua (biasanya November), setiap hari tanpa hujan berarti lebih banyak karbon yang terlepas ke atmosfer. Padahal, Papua dikenal sebagai salah satu paru-paru dunia.